• Pada zaman Plato sampai pada masa Al- Kindi,
batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh dikatakan tidak
ada. Seorang filosof (ahli filsafat)
pasti menguasai semua ilmu
pengetahuan.
• Perkembangan daya berfikir manusia yang mengembangkan filsafat
pada tingkat praktis dikalahkan oleh perkembangan ilmu yang didukung oleh teknologi.
• Wilayah kajian filsafat menjadi lebih sempit dibandingkan dengan wilayah
kajian ilmu. Sehingga ada
anggapan filsafat tidak
dibutuhkan lagi. Filsafat kurang
membumi sedangkan ilmu lebih
bermanfaat dan lebih praktis.
• Padahal filsafat
menghendaki pengetahuan yang komprehensif
yang luas, umum, dan universal dan hal ini tidak dapat diperoleh dalam ilmu.Sehingga filsafat dapat ditempatkan pada posisi dimana pemikiran
manusia tidak mungkin dapat dijangkau oleh ilmu.
• Ilmu
bersifat pasteriori (kesimpulan ditarik setelah melakukan
pengujian secara berulang), sedangkan filsafat
bersifat priori (kesimpulan ditarik tanpa pengujian tetapi
pemikiran dan perenungan).
• Keduanya sama-sama menggunakan aktivitas
berfikir, walaupun cara berfikirnya
berbeda. Keduanya juga sama-sama mencari kebenaran. Kebenaran filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat sendiri tetapi hanya dapat
dibuktikan oleh teori keilmuan melalui observasi ataupun eksperimen untuk
mendapatkan justifikasi.
• Filsafat
dapat merangsang lahirnya keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai
observasi dan eksperimen yang melahirkan ilmu-ilmu.
• Hasil kerja filosofis dapat menjadi pembuka
bagi lahirnya suatu ilmu, oleh
karena itu filsafat disebut juga
sebagai induk ilmu (mother
of science).
• Untuk kepentingan perkembangan ilmu, lahir disiplin filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai filsafat ilmu
pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar